thirty-something

Wednesday, February 25, 2009

pagi

Beginilah seharusnya aku melewati hari,
setiap pagi,
dengan seukir senyum dibalik cangkir putih.
Kopikah? Teh? Oo tak tahu pasti aku,
dan kau pun tak pernah memberitahu.
Hanya senyum itu yang kerap mengganggu.

Monday, February 09, 2009

berondong-berondong ituuuuh...

Just a quick morning note today :)

Baru aja HR di kantor tempat saya kuli, menggiring tiga orang staff baru Malay dan semuanya berjenis kelamin laki-laki. Gak cuma laki-laki, tapi laki-laki yang lumayan "lucu-lucu" (at least salah satu dari mereka itu lucu banget ).

Tapi sayangnya, kalo diliat dari mukanya si mereka semua masih berondong, damn!

ice blended old town white coffee-hazelnut

Sabtu malam, 7 February 2009, di satu sudut Old Town White Coffee, South of Bangsar, KL, saya sibuk mengaduk-aduk ice blended Old Town white coffee-hazelnut, sambil menatap laki-laki yang duduk di hadapan saya. Sejak kami tiba sekitar jam 10.45 pm, kami sibuk membicarakan proyek film animasi robotnya. Mmmm..sebenernya yang sibuk bicara dia, saya hanya mendengarkan saja sambil sesekali mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Dia memang tergila-gila dengan animasi, terutama robot-robot dan superhero. Dan saya, sumpah, sama sekali buta dengan hal itu (sejujurnya, saya buta akan banyak hal).

Malam merambat pelan, bulan menyingkap kegelapan, pasangan-pasangan semakin mengeratkan genggaman tangan. Robot dan superhero telah meninggalkan kami berdua. Perlahan, kami tenggelam dalam kehidupan pribadi kami. Sebenarnya, kehidupan pibadi yang kami jalani tidak jauh berbeda, di luar perbedaan perangkat kelamin yang kami miliki. Kami sama-sama lajang di usia kepala tiga (ok ok, saya beberapa tahun lebih tua darinya). Tinggal dalam dunia kapitalis. Sibuk dengan mimpi yang masih harus dikejar. Sampai kapan dan di mana harus mengejar mimpi itu, kami tidak tahu. Buat saya pribadi, masih harus ditambah untuk belajar merasa secure dengan diri sendiri, dan mensyukuri apa yang saya miliki. Otherwise, saya hanya akan merasakan kosong dan plain di tengah kesendirian saya, persis seperti yang saya rasakan belakangan ini. [Being single is not that bad actually, begitu kata teman saya].

Thursday, February 05, 2009

BM

Tadi pagi, begitu gua buka mata, gua udah bisa ngerasain tanda-tanda itu ada. Tanda-tanda gua bakalan BAD MOOD seharian. Perasaan gua udah gak enak, udah males ngapa-ngapain. Gua udah berusaha melawan gejala itu, gua senyum sama dunia, gua nyanyi-nyanyi, berusaha berpikir positif. Semuanya gak berhasil.

Seharian tadi banyak banget kejadian yang bikin mood gua tambah terpuruk. Dan pada saat seperti itu, gua jadi sangat sensitif. Gua akan bereaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil, apalagi terhadap hal yang melukai harga diri gua. Sialnya lagi, hari ini gua berhubungan sama orang yang jelas-jelas menjadikan gua ban serep. Gua udah pengen nimpuk aja ama high heels yang baru gua beli minggu lalu. Belum lagi mesti ngadepin orang yang ngambek, bikin cape gua.

Setelah menelan beberapa pil pahit, hari ini gua ended up sesenggukan dengan suara tertahan di surau. Ya Allah, betapa susahnya ikhlas.

Monday, February 02, 2009

ketika hujan

Kuala Lumpur diguyur hujan, lebat dan berangin, sesekali dihiasi kilat dan petir. Dari ketinggian lantai 18, saya memandangi dunia yang basah. Cahaya lampu jalan yang berpendar di tengah hujan, kendaraan-kendaraan yang melintas perlahan di jalan yang berair. Tercenung saya menatap semuanya dari balik jendela kamar. Hanya ada saya dan irama hujan. Gosh, betapa saya mencintai hujan, dan saya selalu mencintai hujan, sejak dulu lagi.


(sendiri, menunggu Yaya online)

GA 820

Rabu, 28 Januari 2009, tepat pukul 1.45 pm, pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 820 dari Jakarta mendarat mulus di bandara internasional Kuala Lumpur, KLIA, yang megah itu. Saya tetap duduk dengan sabuk pengaman masih melingkari pinggang saya (yang ramping..cuihh) sampai pesawat benar-benar berhenti, bahkan sampai satu persatu penumpang yang duduk di belakang saya meninggalkan tempat duduknya. Enggan rasanya meninggalkan pesawat, ingin sekali saya tetap berada di dalamnya sampai pesawat itu kembali lagi ke Jakarta.

Toh akhirnya saya harus turun juga ketika hampir semua penumpang sudah meninggalkan burung besi itu. Dengan ogah-ogahan saya melangkah ke luar dan tersenyum pada pramugari yang berdiri dekat pintu pesawat. Satu catatan kecil yang saya dapat dari penerbangan saya dengan Garuda dari Kuala Lumpur - Jakarta - Kuala Lumpur, adalah pamugari-pramugarinya tidak jelek, tapi juga tidak secantik dan semuda pramugari-pramugari penerbangan lain yang pernah saya tumpangi. Namun terlihat sekali kalau mereka semua sangat profesional dan berpengalaman, ramah, sopan tapi tegas melayani penumpang-penumpang yang sedikit membandel. Banyak kan penumpang yang sok sibuk sekali sampe gak rela rasanya buat matiin ponselnya padahal tanda untuk mematikan ponsel sudah dinyalakan.

Selesai urusan dengan imigrasi Malaysia dan ke baggage claim mengambil satu backpack yang penuh dengan buku dan kamus, saya menuju bus station khusus bandara yang masih berada dalam satu komplek bangunan bandara itu. Supaya lebih irit, saya memilih untuk naik bis saja menuju pusat kota daripada dengan speed train, KLIA Express. Dengan bis, saya hanya perlu mengeluarkan uang RM 10, sementara dengan kereta ekspres harus rela merogoh kantong lebih dalam lagi, RM 35. Lumayan lho selisih RM 25, bisa buat makan siang selama lima hari di food court di lower ground gedung kantor tempat saya kerja. Memang sih waktu tempuhnya jadi lebih lama. Dengan bis memakan waktu 1 jam, dengan kereta 28 menit.

Lima hari pulang kampung ke Sawangan, Depok dan berkumpul dengan keluarga membuat saya benar-benar enggan kembali ke sini, ke Kuala Lumpur maksud saya, dan menyelesaikan kontrak kerja selama dua tahun di sini. Saya baru menjalani bulan keempat, jadi masih ada 20 bulan lagi yang tersisa.

Ada kejadian yang bikin gak enak lho waktu saya di bis. Karena capek dan ngantuk sekali, tidak terasa saya tertidur pulas dalam bis, benar-benar pulas. Saya terbangun begitu bis sudah berhenti di KL Sentral, stasiun kereta utama di Kuala Lumpur, dengan kepala bersandar mesra di bahu laki-laki yang duduk di sebelah saya. Saya tidak tahu pasti berapa lama saya menyandarkan diri dengan pasrah di bahu laki-laki yang beruntung itu hehe..(untung gak ngiler, yang ini saya tahu pasti )

Monday, December 08, 2008

belajar terbang

Setiap orang harus belajar terbang, walaupun itu berarti merasakan sakitnya jatuh pada saat kita gagal mengepakkan sayap.

Setiap orang harus tetap belajar terbang, bahkan pada saat kita mengira kita sudah mahir terbang, dan tetap merasakan sakitnya jatuh karena ternyata sayap kita masih belum cukup kuat menahan hembusan angin.

Setiap orang harus berani belajar terbang, dengan sayap yang koyak sekalipun.

Thursday, November 20, 2008

I think I saw UFO last night

Tadi malam sekitar pukul 12.15, ketika saya sedang dalam ritual harian saya, duduk di jendela kamar saya, tiba-tiba saya melihat lingkaran cahaya yang besar di atas sebuah gedung di kejauhan. Cahaya yang gak berhenti berkelip, sepertinya berasal dari ratusan lampu yang disusun membentuk suatu lingkaran. Asap (atau kabut kah?) yang menyelimuti lingkaran cahaya tersebut, menimbulkan efek misterius pada benda aneh itu.

Berulang kali saya mengucek mata, saya pikir saya sedang berhalusinasi, tapi ternyata lingkaran cahaya itu masih tetap di sana dengan efek magisnya. Saya ingat, malam-malam sebelumnya belum pernah melihat lingkaran cahaya itu, atau mungkin saya gak sadar kalo sebenernya cahaya itu sudah ada di sana sejak dulu-dulu.

Di tengah kebingungan itu, saya melihat sosok tinggi semampai, berambut sedikit ikal, dengan tampang yang uenak dipandang (ashraf yang baru-baru ini kawin ama bcl mah kalah jauh dah) keluar dari cahaya itu. Jauh di luar ekspektasi saya, mahluk sedap dipandang itu tersenyum dan melambaikan tangan pada saya. Untuk beberapa saat, saya hanya tertegun (dengan mulut setengah terbuka, untungnya masih bisa nahan iler supaya gak netes). Kemudian dia menghampiri saya, dan bilang kalo besok malam akan mengunjungi saya lagi.

Note:
Paragraf terakhir saya benar-benar sedang berhalusinasi.


Wednesday, November 19, 2008

morning blue

Jam 7.30 am, setelah alarm saya bunyi untuk yang kesekian kalinya, saya baru benar-benar membuka mata saya, menyingkirkan selimut, dan melepaskan bantal guling dalam pelukan saya (the hardest thing to do in the morning).

Pagi ini saya benar-benar harus memaksakan diri untuk bangun, saya merasa lebih malas dari hari-hari sebelumnya. Mungkin karena tadi malam saya terlalu lama duduk di jendela kamar saya, sampai lewat jam 01.00 dini hari, sibuk mengutuki cupid yang seringkali stupid, bego total (pinjam istilah bos saya dulu yang orang Jepun itu), melepas panah sekenanya tanpa melihat target yang tepat.

Setelah mandi sekenanya, pake baju seadanya, saya berjalan tanpa semangat ke kantor yang cuma 3 blok jaraknya. Dan di sinilah saya, duduk terkantuk-kantuk dalam kubikel, tanpa fokus menatap monitor di hadapan saya.